BPJS dan Cara Dokter Bertahan Hidup

Standard

Kehadiran BPJS beberapa tahun terakhir seriously mengubah kehidupan banyak dokter di Indonesia. Tulisan berikut akan banyak menyorot dari sisi kehidupan dokter dan bukan tentang manfaat BPJS, cara menggunakannya, atau bahkan penyakit apa saja yang di-cover.

Read more: Melahirkan Caesar dengan Menggunakan BPJS dari luar kota (post trigger #KEBloggingCollab kelompok Butet Manurung yang ditulis oleh Everonia, ibu lima anak yang juga seorang MUA).

BPJS

Untuk yang belum familiar, BPJS adalah asuransi kesehatan yang mencakup hampir semua penyakit. Mungkin dari sudut pandang pasien, BPJS adalah penyelamat di kala sakit dan darurat. Tetapi sebenarnya bagaimana BPJS dari sudut pandang dokter sendiri?

Untuk RS, pasien dengan BPJS itu ditombokin dulu. Jadi untuk pasien tagihannya 5 juta karena diagnosis A dan dirawat inap selama B hari akan ditanggung semua oleh RS dan ditagihkan kemudian kepada BPJS.

Kemudian itu kapan?

Lama deh pokoknya. Proses klaim biasa melalui proses verifikasi terlebih dahulu. Dicek ulang apa betul diagnosis A itu ditegakkan sesuai prosedur? Misal melalui tes X dan Y. Jika ternyata tesnya kebanyakan alias X,Y, dan Z maka Z tidak akan dibayarkan oleh BPJS. Lanjut, jika waktu rawat selama B hari itu ternyata harusnya B-2 hari atau B-3 hari maka akan berkurang lagi nominal yang diganti oleh BPJS.

Belum lagi jika ada rekam medis yang kurang lengkap, entah kurang catatannya, atau pemeriksaannya, maka bisa jadi dianggap salah diagnosis atau tidak dapat di-reimburse sama sekali.

#jejeritan

Nah, kalau begitu yang paling keriting siapa? Pertama RS pastinya karena sudah pasang badan dan keluar uang duluan. Mereka harus puter otak untuk mencukupkan keuangan. Biaya operasional seperti utilitas, gaji perawat, dan bahan habis pakai harus dibayar. Belum lagi kalau menghitung depresiasi alat yang harga belinya bisa milyaran rupiah. Pos terakhir yang dikorbankan angkanya (biasanya) adalah honor dokter.

Dokter harus siap sedia menerima berapapun angka honornya. Pada waktu yang belum pasti tanggalnya.

Krik krik….

Dokter itu memang profesi yang agak aneh. Pastinya dihormati, banyak orang tua ingin sekali anaknya jadi dokter, dianggap pasti kaya raya. Profesi harapan dan diharapkan.

Medic, Hospital, Laboratory, Medical

Looking at my college friends setelah lulus hampir 15 tahun, hasilnya beragam.

Betul ada yang sudah sukseis sekali, penghasilannya puluhan juta per bulan, Tentu membuat orang lain atau orang tua tertarik ya.

Tetapi how about the others? Apa memang semua akan berpenghasilan puluhan juta per bulan?

Ada banyak faktor seperti dokter umum atau spesialis. Kalau spesialis maka spesialis apa. Beberapa bidang memang very challenging dan dengan demikian memberikan pendapatan yang (sangat) lumayan. Juga praktiknya di mana, RS-nya pakai BPJS atau tidak. Praktiknya berapa kali seminggu, apakah ada tindakan operatif atau invasif yang dikerjakan. Semua ada hubungannya. Makin banyak tindakan ya makin besar penghasilannya.

Dari pengamatan luar yang singkat karena saya tidak berpraktik, BPJS pays poorly. Titik. Teman sejawat ada yang bercerita dia dapat tarif Rp 10.000-15.000 per pasien poli dengan BPJS. Padahal mereka dokter spesialis.Saya bisa membayangkan sulitnya masa mereka bersekolah, menuntut ilmu, belajar dari senior, menghabiskan ribuan jam di RS, dan menomorduakan waktu bersama keluarga.

OMG, I made more per item jualan mukena. Yah, kalau ditotal mungkin memang masih lebih banyak pendapatan dokter spesialis karena mereka pegang puluhan pasien sehari sedangkan saya mungkin hanya laku beberapa potong mukena saja setiap harinya. But I think the rate is an insult. Insult atas upaya belajar 6 tahun plus 4 tahun (kadang lebih hingga 6 tahun) plus fellowship plus seminar plus plus lainnya.

Then, bagaimana dokter bisa survive?

Some menganggap praktik dengan BPJS itu sejenis sedekah aja. Nominalnya kecil, cairnya pun agak misterius. Uang untuk hidup harus dicari dengan praktik swasta di RS lain. Nah, there you have it. Solusi dokter untuk tetap mempertahankan kehidupan dan kecukupan nafkah untuk keluarganya di era BPJS. Extra work.

Dampaknya however, he or she is very busy. Kebayang ya dari pagi sampai siang di RS lalu lanjut praktik swasta sore hingga malam. Jangan lupa dokter juga dituntut visit pada wiken.

How about rest? Personal life? Family?

You already know the answer to that.

Terus bagaimana? Apakah BPJS harus dihapuskan dalam nama nominal penghasilan dokter? Menurut saya tidak demikian karena memang asuransi kesehatan dibutuhkan oleh rakyat banyak dan memang akan sangat membantu. Namun, kesejahteraan dokter juga perlu menjadi prioritas dan harus ditingkatkan.

Why?

I think merasa ada apresiasi saat bekerja juga penting. Nominal yang cukup adalah wujud apresiasi. Ketika dokter harus pindah-pindah lokasi RS hanya mengejar untuk mencukupi nafkah maka pasien juga yang merasakan dampaknya. Misalnya sulit bertemu dokter, divisit tidak tentu jamnya, atau dokternya lelah dan kurang konsentrasi.

Jangan juga dijawab dokter haus uang, ingin banyak duit, harus berbakti, ikhlas, dll.

Please deh.

Sesekali perlu mengubah sudut pandang kita. To get a new perspective. Bridge a new understanding.

 

 

 

Tulisan ini adalah bagian dari collaboration blogging KEB.

 

Advertisements

Kereta Api, 20 Tahun Kemudian

Standard

Setiap akhir tahun ada agenda wajib berlibur untuk keluarga kami. Kebiasaan baru yang dimulai sejak beberapa tahun lalu. Mengapa akhir tahun saat masa liburan sedang padat, tiket mahal, hotel sulit dicari? Jawabannya adalah karena kami memilih saat itu untuk beristirahat, mengumpulkan tabungan liburan sepanjang tahun, dengan risiko yang sudah disebutkan di atas.

Ada beberapa tip untuk menghindari masalah-masalah standar liburan yang bisa mengurangi keseruan kami. Contohnya, kami selalu memilih pergi di salah satu tanggal ini: Natal atau Tahun Baru, Biasanya harga tidak terlalu mahal dan lalu lintas tidak terlalu padat. Pilih mana yang harganya lebih bersahabat. Mengapa bisa lebih murah? Karena banyak orang tidak memiliki jadwal liburan tambahan di Natal dan Tahun Baru selain yang memang izin cuti atau merayakan Natal. Oleh karena itu, pas pada Natal dan Tahun Baru orang sudah selesai berlibur dan sedang bersiap untuk kembali bekerja keesokannya.  Kedua, beli tiketnya sebulan atau dua bulan sebelumnya jangan terlalu dekat akhir tahun. Untuk hotel bisa mulai cek online dan booking untuk pilihan free cancellation sehingga kita masih bisa mencari-cari pilihan lain.

Akhir tahun lalu, kami mencari pilihan berlibur yang berbeda dari biasa. Tahun-tahun sebelumnya sudah pernah naik pesawat dan bahkan naik kapal feri menyeberangi selat Sunda. Setelah sedikit merenung akhirnya kita memutuskan untuk naik kereta api untuk liburan. Anak-anak usianya sudah cukup besar dan mereka belum pernah naik kereta api ke manapun.

Apalagi kita, bapak ibunya. Untuk saya sendiri terakhir naik kereta api mungkin 20 tahun yang lalu. Ya ampun, lama banget ya. Mungkin karena sekarang ini harga tiket pesawat dan tiket kereta api tidak terlalu jauh berbeda padahal waktu yang dihabiskan bedanya cukup jauh. Banyak orang memilih naik pesawat karena lebih praktis.

Setelah ketok palu, mulailah kita berburu tiket kereta api. Kalau zaman dulu kan harus ke stasiun kereta api dan beli tiket. Untungnya zaman sekarang acara berburu bisa dilakukan di mana saja, di rumah, di jalan, sambil senggang, bisa lihat-lihat kota tujuan dan biaya masing-masingnya. Simpel banget ya. Pas untuk tipe emak-emak yang suka survei menyeluruh terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan.

Salah satu situs pencari yang sering saya gunakan adalah Traveloka, pasti sudah pernah dengar kan ya. Yang saya suka karena memang mudah navigasinya dan cepat loading-nya (penting nih!). Pilihannya juga lengkap mudah dibandingkan. Untuk masalah tiket kereta api ini juga saya memilih mengeceknya lewat Traveloka.

Klik saja kota asal dan kota tujuan juga dengan tanggal dan jumlah penumpang. Setelah lengkap langsung keluar hasil pencarian yang jumlahnya banyak, lengkap informasinya. Kita bisa melihat harga, jam keberangkatan dan ketibaan, jenis kereta (ekonomi, bisnis, eksekutif), dan sisa kursi yang tersedia. Ga pakai susah atau bingung. Beberapa fitur yang menjadi unggulan Traveloka adalah sebagai partner resmi KAI, Passenger QuickPick, pilih kursi, last minute booking – sampai dengan 3 jam sebelum waktu keberangkatan. Pilihan pilih kursi ini penting banget loh karena kalau sama anak kan tidak mungkin kita duduk terpisah-pisah.

Jadilah kami berangkat ke Semarang. Tujuan yang mungkin tidak terlalu populer tetapi mempertimbangkan jarak perjalanan dan ketahanan anak-anak untuk tidak terlalu bosan di jalan. Anak yang bosan nantinya rewel dan akhirnya memusingkan orang tua juga. Perjalanan Jakarta-Semarang yang memakan waktu 6 jam rasanya sudah cukup untuk sekadar memperkenalkan wisata kereta api untuk anak-anak kami.

Baca cerita kami ke Semarang di sini ya. Cerita yang tak terlupakan saat mengunjungi Umbul Sidomukti di Ungaran. Untuk review hotel ada Hotel Patra Jasa Semarang dan Quest Hotel.

 

 

Fiona

fionaesmeralda@gmail.com

 

 

 

Find Your Girlfriends in Life

Standard

I grew up among girls soalnya SMP dan SMA habis di sekolah homogen. Aneh tapi nyata. Siapa juga yang mau menghabiskan masa remaja yang sangat berharga di sekolah yang susah pelajarannya dan there weren’t even any boys around. Tapi saat itu nurut aja kata alm. papa yang menyarankan untuk berrsekolah di sana.

Fast forward 20 tahun dan all the girls are still friends now.

Image may contain: 30 people, people smilingImage may contain: 13 people, people sitting, table and indoor

Some are married, ada juga yang belum, ada yang sukses banget terkenal seantero Indonesia, ada juga yang ibu  rumah tangga dengan kesibukan di rumah aja (gw banget iniiii….). But we are still friends. Personally, sih aku ga ngerasa mereka banyak berubah walau posisi, situasi, dan status bisa lain banget.

People say marriage life changes your friendship life and I am not talking being friends with guys ya karena most of my friends are girls, cuma pas kuliah aja yang campur.

Read more: Persahabatan Setelah Menikah, Yay or Nay? yang merupakan post trigger #KEBloggingCollab yang ditulis oleh Ophi Ziadah, untuk kelompok Butet Manurung. Ophi Ziadah adalah pengelola blog http://www.ophiziadah.com/ dengan tagline Mom of Trio’s World.

Zaman sekolah atau kuliah dulu hidup cuma isinya belajar dan jalan-jalan. Apalagi waktu kuliah. Mau nonton hayuk, teman ngajak makan tiba-tiba ya oke. Warteg, mal, kaki lima semua boleh. Ga usah banyak pertimbangan selain keburu ga pulang on time. My limit was sudah di rumah by 6pm or at least sudah hampir sampai rumah. Agak lebih longgar lagi setelah menginjak kuliah tahun-tahun terakhir dengan jaga malam dan hidup tak tentu arah thanks to jadwal jaga, kasus, dan sederetan last minute problems yang membuat pulang on time serasa tidak dapat dijanjikan.

Setelah menikah tentu sebagai istri kita punya tanggung jawab di rumah kepada suami. Kalau mau ke mana ya mesti bilang dulu. Idealnya minta izin malah bukan cuma announce sebagai pernyataan. Jadi ribet ga sih? Ya, menurutku si itu memang part of being married. Bagian dari bertoleransi dan menjaga perasaan pasangan. Jadi si suami sebagai yang dimintain izin ya juga harus bijak dan bisa memahami kalau istrinya juga pengen jalan-jalan, ketemu teman. Saling ngertiin aja asal ga ada salah satu pihak yang makan ati. Yang wajar, yang normal, yang lumrah.

Image may contain: 2 people, people smiling, selfie, glasses, close-up and outdoor

In my case, I would say kalau banyak teman yang selama sekolah kuliah rasanya dekaaaaattttt tapi sekarang jauhhhh…. hiks. Banyak penyebabnya. Seringnya memang ada jarak. We don’t live close to each other. Jadi otomatis ya ga bisa sering ketemu. Sama teman model seperti ini sih kalau ngobrol via WA tetap asik aja tapi memang bukan teman jumpa sehari-hari. Kadang cuma setahun sekali berjumpa. Ada juga beberapa teman yang dulu bisa dibilang BFF ya ke mana-mana bareng ehhh ngilang ditelan bumi. Missing. Atau menjauh. Sedih ga sih? Lebih ke bete mungkin tapi whatever the reason ya kita cuek ajalah. Life goes on. Without them.

But in this story, aku ingin cerita tentang a bunch of girls called The Rempongs. Grup WA kecil itu terbentuk saat reuni SMA 3 tahun yang lalu. Isinya panitia mungkin cuma 7 orang. Setelah reuni however the group remains. Tetap rempong. Anehnya, dulu saat sekolah kedekatan kita satu sama lain tidak sama. Ada yang memang sudah dekat dari dulu, ada yang baru ngobrol dekat ya di grup itu. We are also very diverse consisting of different religions and ethnicity. But that does not stop us from being friends dan ngobrol apa adanya. Grup ini rutin ketemuan every now and then. Terutama kalau ada yang dari luar kota datang. We would have lunch together.

Di Rempong you could ask or talk about anything. Pasti ada yang jawab, nyaut, ngoceh, Kadang sampai beratus-ratus chat. Tahu kan wag lain yang kalau ada yang tanya, yang jawab hanya satu dua aja padahal anggotanya 100. Atau even worse ga ada yang jawab or komen. Rempong discusses parenting issues, marriage tips, personal support, sampai fashion problems. Hahahahaa..

So, find your girlfriends in life. Friends who will talk and listen to you anyday, anytime, about anything.

Image may contain: 6 people, people smiling, people sitting, table, indoor and food

Image may contain: 11 people

Image may contain: 7 people, people smiling

Image may contain: 11 people, people smiling, people sitting, table and indoor

The Story of the Broken Glasses

story of a broken glasses
Standard

Jumat malam kemarin tiba-tiba kacamataku patah. Satu tangkainya lepas. Huhuhu…

Akhirnya pakai kacamata serep yang sudah lama dan as usual sebenarnya sudah tidak nyaman lagi. Tapi ya sudahlah gapapa.

Sabtu pagi mau ke ITC ke tempat langganan beli kacamata. Kirain ga bisa dibetulin lagi toh. Etapi pas mau pergi mama ga mau ikut padahal anak-anak sudah siap semua. Ngajak Vigo lah tapi dia malesss ke ITC. Ga seru katanya. Kita pun ke Kokas hihihi… Ga nyambung ya. Kacamata ga dibawa dan ga dibetulin. Cuma makan es krim doang di sana.

I was kinda struggling with the spare glasses but I think I can make it lah until ada waktu ke ITC. Ga mau juga nyusahin jadwal orang-orang kalo wiken kan pada mau jalan-jalan.

Malamnya abis Isya, Vigo muncul bawa kacamata yang patah tadi. It is fixed!

I cannot believe it. Ternyata dibawa ke toko kacamata dekat rumah dan dibetulin dengan mudah. Voila.

 

Macbook, Notebook, Home Office

 

Ceritanya ga seru-seru amat sih cuma it reminds me of another story.

Sekitar Juli 2002.

Hari itu ada acara Bon Odori di Hotel Hilton.

Siapa juga ya yang ngusul ke Bon Odori. Secara aku ga gitu ngerti tapi like semua anak kuliahan ya kalau pada ke mana ya ngikuuutt… Bon Odori itu apa ya? Like pesta musim panas ala Jepang. Sayang sih sekarang udah ga diadain lagi kayaknya.

Anak-anak AMSA dari luar kota juga lagi di Jakarta karena ada Raker maybe or something. Some are even staying at my house. Jadi rame deh ceritanya.

I asked Vigo untuk jemput aku dari CCF abis les dan nemenin dan nganterin pulang aku sama temen-temen nanti. (Note: we were not a couple back then. Status? Kinda complicated dan sulit dijelaskan apalagi di blog)

Ceritanya setelah dari Bon Odori kita semua mau cari makan. Ada beberapa mobil tapi ga pada tahu mau makan apa dan di mana.

Hayoooo yang inget ikutan siapa ajaa? Setelah muter-muter akhirnya ke sebuah tempat makan di Jl. Suwiryo, Menteng. Vigo sih yang ngajakin. While we were sitting and baru baca menu dia kayaknya notice bahwa aku dah laper dan starting to be a bit cranky.

Yang kenal aku pasti tahulah ya… Gitu deh 🙂 Do not make me hungry. You won’t like it. Hehehe…

He ordered the food for me dan in a few minutes I already have seporsi sate ayam in front of me. While my friends masih balik-balik menu.

I was stunned. Frankly, I think nobody has ever done that for me.

On the way home afterwards, I can’t stop thinking about it.

All my life, I grew up as the little kid in the family. My parents do everything for me. However, di luar rumah I was not able to depend on other people. I have to be independent and may even come across as bossy. So it came as a surprise that someone can and want to take care of me in a way that I did not even think of.

And so he did.

He still does until now.

 

He may not be the sweetest person to talk to. Lelah hayati ngobrol ama dia.

He may not bring me flowers or cakes on special days. Or in any day juga si in that case.

He may not say I love you voluntarily. Musti dengan sedikit ancaman dan paksaan huehehehe.

But he takes care of me.

 

 

 

Thanks love for reminding me about that night in July.

 

 

 

-Home, Sept 10, 2017-

 

Jangan Galau jadi Stay at Home Mom

Standard

Ini sejenis topik yang tidak ada habisnya dibahas.

But I am just going to share some of my own thoughts as a stay at home mom (SAHM) since I never worked full time.

Dari awal nikah memang ini dah sebuah cita-cita. Untuk yang kenal aku dari sekolahan it may come as a shock secara dari dulu aku tuh identik pasti sama ambisi. Wkwkwkwk. Jadi malu deh.

Sejak SD sampai SMA memang selalu diingatkan sama orang tua untuk berprestasi, be different, dst dst deh. Aktif organisasi kayaknya udah lekat banget karena dulu kan cita-cita aku (dan mungkin banyak orang lain) adalah punya CV yang indah dan bervariasi. :’)

Ehhhh…

Jelang kehidupan sebenarnya alias selesai kuliah malah aku pengennya jadi ibu rumah tangga aja. Aga antiklimaks malah ya. Ga rencana kuliah lagi, ambil spesialisasi, atau kerja full time. Pokoknya mau ngurus anak aja. Kinda naif juga ga sih.

Yaa setelah dijalani memang semua pilihan itu ga ada seindah si impian itu sendiri. Kayaknya hepi banget lihat ibu-ibu siang bolong jalan ama anak kecil di mall. Ajak makan anak dan maen bareng. Etapi, setelah dijalani ya biasa aja. Malah jadi SAHM itu bener banyak rempongnya daripada glam side-nya (itu juga kalo ada si glam side ini huhuhu).

 

Mom, Daughter, Baby, Pram, Park

 

SAHM juga selaras dengan ibu-ibu yang di rumah aja seharian, kerjaannya itu-itu aja ngurusin anak, belanjar sayur, masak ini itu, bebenah rumah, anter jemput, dst. Banyak deh kalau ditulisin. Karena ga kelar-kelar ni kerjaan. Suwer deh. Sambung-menyambung jadi satu. Sampeee malem juga belum finish kalau belum tidur semua. Kalau hasrat eksis masih tinggi bisa buka medsos atau blogwalking. Tapi mesti mawas diri kalau tidur kemaleman besokannya bisa ngantukkk dan a sleepy mom is dangerous one hehehee.

Jadi SAHM yang udah full niat juga bukan berarti tanpa galau. Kadang seru lihat orang kerja, lihat orang rapih, atau lihat temen dah jadi apa gitu. Jadi dokter spesialis apa, ada yang jadi PhD, ada yang lagi dinas ke luar kota. Ih, apalah daku di rumah ngusruk gini-gini aja. Mungkin ini perasaan banyak SAHM kayaknya. Including me.

Anyway, itu mah dulu.

Suatu hari, aku mendapat pencerahan. Hihii..

I realised bahwa everyone has a value in this life. Punya peran masing-masing.walau kesannya ga keren, ga penting, atau ga kekinian.

Termasuk menjadi SAHM.

If I work, I would need to hire a driver, a nanny, a maid. Belum extra lessons mungkin untuk anak-anak karena aku ga bisa nemenin belajar di rumah.

Kalau gitu aku ada dong ya fungsinya?

Bukan itu juga sih. Kalau itu doang semua juga tahu. Tapi lebih ke pencerahan diri bahwa kita itu harus serius dalam menjalankan peran kita. Kalau misal nih aku jadi nemenin anak di rumah ya bukan cuma sekedar hadir dari segi fisik tapi mesti ada tujuannya. Nemenin dia main sambil melatih motorik halus dan kasarkah? Apa kita cuma sambil main hp dan duduk sebelah anak? Mungkin kita bisa beli buku untuk dibaca bareng? Browsing cari aktivitas belajar di rumah sama anak.

Totalitas gitu.

And most of all. Everyone has a choice.

Kalaulah SAHM menjadi pilihan kita karena segudang alasan, harapan, impian, dan cita-cita maka jangan mengeluh ataupun minder. Be the best of who you can be. Siapa bilang jadi ibu rumah tangga juga ga bisa best.

Tinggal kitanya sendiri mau gimana.

Last but not least.

Life will change. Kadang ini hal aneh untukku karena sebenarnya hidup ga akan terus sama. Begitu juga dengan profesi SAHM ini. Seiring dengan anak makin besar sangat mungkin jika kita punya kegiatan lain. Sesimpel jualan online, mungkin bikin kue sesuai minat, aktif di kegiatan sosial dan pengajian, sampai suatu hari kembali bekerja atau melanjutkan sekolah.

Aha! Mungkin ga sih? Sebenarnya kenapa engga. I don’t know for sure jadi tidak bisa meramal. Hehehe…

 

Bench, Wooden Background, Happy

 

Intinya bersyukur dengan hidup dan pilihan kita agar kita selalu bisa berbahagia.

Looking at other people’s lives or choices will leave us feeling empty, sad, or hopeless.

Don’t.

 

 

 

 

280817

fiona

 

It May Not be Easy for You, Dear

salma haaniyah
Standard

Malam itu aku agak terlambat menjemput kakak yang pulang ikut pesantren kilat (sanlat) dengan sekolahnya. Kami baru saja dari acara bukber keluarga di daerah Kelapa Gading dan ternyata kakak tiba lebih awal dari perkiraan.

Kakak terhenyak di pojok hall bagian depan saat kupanggil. Dia lanjut pamitan dengan guru sambil aku bantu membawa barang-barangnya yang jadi banyak karena tidak bisa dia rapihkan kembali masuk dalam ranselnya yang (agak) kecil. Terkantuk-kantuk dia masuk mobil dan lanjut tidur sebelah adiknya yang sudah tidur duluan di perjalanan. Bubar deh rencana mau mampir makan ngemil sebelum pulang.

Setiba di rumah, kakak masih sempat ganti baju dan bebersih seraya menggerutu. “Pokoknya aku ga mau sanlat lagi! Tahu ga, TVnya cuma satu untuk semua orang, mi. Ga ada acara anak-anak lagi,” ucap kakak sebelum tidur kembali. Aku cuma diam saja tidak menanggapi. Lah, memang kamu pikir ini liburan di hotel gitu? Ya iyalah kalau di villa ga punya TV tiap kamar. Hehehee… Maklum deh ternyata belum pernah ke villa.

Saat bangun sahur kakak sudah baikan moodnya. Syukurlah, hanya kecapekan sepertinya. Ga kesel lagi dan bisa menceritakan pengalamannya dengan lebih santai. Kamarnya berlima di sana, tanpa AC. Lumayan dingin tapi kadang agak gerah juga. Kamar mandi tanpa air panas (aku dah mau ngikik aja ini). Acara sampai malam dengan tarawih yang bacaannya panjang dan bangun pagi banget karena tahajud dulu. Buka puasa pakai panada dan es buah which neither was her favorite. Di rumah wajibnya ada bakwan dan es teh manis.

I am not surprised though.

Dulu banget juga aku juga pernah ikut sanlat. Waktu sudah kuliah. Ikut program di Al Azhar Pusat dan jadi teman sanlatnya banyak anak Alpus. Pengalamannya ya mirip begitu tapi ga sekaget kakak sepertinya. I remembered it as a nice weekend well spent.

Yang menjadi perenungan adalah bahwa kakak dan aku mengalami masa kecil yang jauh berbeda. Setelah ngobrol sama mamaku disimpulkan bahwa sampai aku kuliah, aku baru nginep di hotel sebanyak 4 kali saja. Ke villa pernah si juga beberapa kali dan kalau ke luar kota ya mengunjungi adik mama dan menginap di rumahnya. Sedangkan kakak bahkan bisa 4 kali setahun menginap di hotel yang walau bukan bintang 5 tapi pastinya kita make sure ada air panas, AC, TV dengan channel anak, dan wifi super kencang. Haduh, jadi geli sendiri deh ngetiknya.

Pantes aja dia kaget menginap di sebuah tempat bernama villa, bareng teman dengan fasilitas sederhana. Hehehe…

But seberat hati mamak-mamak membayangkan anaknya mandi air sedingin es (kuatir masuk angin dll ya), tidur di ruangan tanpa AC (gerah ga sih?), berbuka dengan menu yang tidak disukai (langsung pengen masak bawaannya)

Ya, I don’t mind. I believe it was a good experience for kakak.

 

Dia bisa belajar bahwa she can survive kok tanpa the usual comforts that she know.

Belajar bahwa ada cara hidup yang berbeda dengan yang biasa dia jalani.

Belajar to grow up.

Kita orang tua yang melindungi mereka. Terlalu melindungi.

 

Malah jika mereka kemarin sanlat di hotel fasilitas berbintang dengan selimut hangat dan AC dingin, mereka akan pulang tidak belajar apa-apa. Pindah tidur doang judulnya. In my opinion, kalau kenyamanan anak yang menjadi tujuan utama berarti pembelajaran kehidupan must take a back seat.

 

It may not be easy for you, dear.

But you will make it through.

 

-June 2017-

 

14 Years ago

Standard

That night was the eve of my birthday.

Sayangnya malam itu aku tugas jaga di Bangsal Neuro IRNA RSCM. Saat itu jaganya berdua. Satu orang di IGD, satu orang di Bangsal.

Katanya sih santai karena di ruangan kan jarang ada emergensi. Cuma stand-by saja untuk terima pasien yang dikirim dari IGD.

That night changed my life though.

Nearing midnite, I had a short escape and left the ward. I left a message to my friend at ER to call me if he needed me.

Spending a miniscule of time on the beginning of my birthday with the one I cared about was good enough for me. He gave me a birthday surprise which was shortly interrupted by  a ringing message.

I was needed at ward.

The ward was dark and quiet as I stepped inside. It consisted of only one huge room with maybe 20-30 beds separated into several cubicles without walls. So it was plainly just one room for all. All patients and their family.

Bangsal neuro was not my favourite.

Some patients were silent because they can no longer speak. Mereka menderita stroke atau mengalami gegar otak dari kecelakaan lalu lintas yang mereka alami. Ya, kayaknya itu deh mayoritas jenis pasien di situ. Tapi ada lagi. Yang juga sakit tapi tidak silent. Mereka mengerang sepanjang malam. Sepanjang siang.

Like my patient was.

It was a she. I forgot her name but somehow I still remember her face and even her hair. Bed dia di tengah ruangan. Pas di depan area perawat. Area kecil yang terdiri dari several tables and chairs. Kira-kira untuk menulis status pasien lah cocoknya.

Aku terduduk di kursi dekat ranjangnya. I got to check her out. Dia yang terus gelisah. Dia yang makin memburuk keadaannya.

I really did not know what to do.

Entah bagaimana dia kejang. Dan lagi.

Aku harus bagaimana? Hanya aku sendiri di sana.

Perawat sempat ada menyuntik sesuatu. Well, aku si harusnya kasih perintahnya tapi yang ada juga bingung. Dokter PPDS seniorku ke mana ya? Ntah. Pastinya ga ada di sana.

I was alone.

The nurse left me by her side. Bagging her. Iya ga ya? Or has my memories betrayed me. Masa bagging di ruangan? Mungkin aku yang salah ingat. Pastinya aku ada next to her. Ngapain?

Checking her. While I was clueless myself. I was there all night.

Where it was dark in the large silent room. I stayed awake. Everyone else was asleep. Some moaned. Many were still.

Tapi.

I remembered how I felt.

It was my birthday. I remembered him. I remembered my parents.

As doctors we are asked to set aside our our happiness. Our own time. For others. For patients. Any day of the year. Any day can be your shift.

It can be Saturdays. Sundays. Holidays. Christmas. Eids. New Years. Birthdays.

Yeah, been there-done that.

 

And in the silence of the room.

In the dark.

I can still hear her, writhing near me.

I remember.

I was alone.

And there I decided.

I knew that this is not the life I want to have.

 

 

Bangsal Neuro May 25, 2003 – My Room May 25, 2017

 

#lifeasitwas

#chooseyourdestiny

 

 

PS: The patient passed away some days later.